Konten-Panjang-VS-Pendek.-Yang-Mana-Yang-Lebih-Baik

Konten Panjang VS Pendek. Seberapa Panjang Seharusnya Sebuah Konten?

Saat membuat artikel tentang suatu topik, beberapa orang biasanya akan kebingungan akan menentukan panjang konten. Ini wajar jika melihat mereka membuat artikel dengan tujuan untuk mendapatkan rank di Google. 

Riset keyword telah dilakukan, isi artikel juga sudah kurang lebih telah dipetakan beserta strukturnya. Sekarang, harus seberapa panjang artikel itu sendiri?

Dulu saya juga berpikir, “Seberapa panjang sebaiknya saya membuat artikel ini?”. Mungkinkah semakin panjang semakin baik?

Seringkali juga artikel yang dibuat dirasa selalu kurang dalam menjelaskan suatu topik sehingga terus menambahkan informasi-informasi yang dipikir berguna tetapi kenyataannya tidak demikian. Kita berpikir informasi tersebut mungkin berguna tetapi bagi pembaca itu adalah informasi yang tidak perlu.

Nah, seberapa panjang sebaiknya sebuah konten terletak pada topik apa yang ingin dibahas. Beberapa topik memerlukan penjelasan yang cukup panjang untuk membuat semua orang memahaminya. Ada yang sampai ribuan kata panjangnya, ada juga yang hanya ratusan kata sudah cukup.

Untuk itu kali ini saya akan membahas bagaimana cara menentukan panjangnya suatu artikel dari beberapa macam faktor. Artikel ini akan menjadi artikel yang cukup singkat, dan tentunya tetap menarik dibaca.

Jumlah Kata Yang Optimal

Yang sudah sering bermain di dunia SEO tentu sudah tidak asing lagi dengan yang satu ini. Berapa jumlah kata yang tepat? Pertama harus diketahui dulu jumlah kata yang direkomendasikan oleh para pakar di dunia.

Di tahun setelah 2010 sekian, rata-rata jumlah kata yang terdapat di dalam artikel adalah sekitar 500 dan 800 kata.

panjang konten dahulu

Menurut mereka, rekomendasi kata di sebuah artikel adalah 500 kata. Sedangkan jumlah minimal kata yang optimal untuk mendapat ranking yang tinggi adalah 1000 kata.

Riset akurat menghasilkan bahwa jumlah kata yang terdapat di halaman yang menempati halaman depan google adalah 1800 kata. Tetapi asal tahu saja bahwa 1800 kata itu sudah meliputi semua kata yang berada di halaman, bukan hanya artikel itu sendiri. 

Nah, apa semua artikel yang dibawah 500 kata berarti tidak akan mendapat rank yang tinggi di hasil pencarian? Belum tentu. Google juga mengkalkulasikan sebuah rank website tidak hanya dilihat dari jumlah kata saja. Terdapat juga faktor-faktor lainnya yang menjadi penentu dalam pemberian nilai akhir.

Misalkan ada dua buah website yang mempunyai nilai yang sama dalam semua faktor dan yang berbeda hanya terletak di isi artikel (jumlah katanya) saja, apa yang lebih panjang yang akan mendapat nilai lebih tinggi?

Sekali lagi, belum tentu.

Kalau artikel yang panjang-panjang saja yang mendapat ranking tinggi, bukannya lebih baik semua orang membuat artikel yang panjang-panjang saja?

Idealnya bisa dibilang begitu. Pembuatan artikel yang lebih panjang lebih disenangi Google, namun artikel yang pendek juga mempunyai kelebihan-kelebihan sendiri. 

Keuntungan Short Form (Pendek) dan Long Form (Panjang)

Short Form

Long Form

Mudah dibaca 

Mengurangi bounce rate (seberapa cepat pembaca meninggalkan sebuah website)

Tidak membuat pusing

Menjawab lebih banyak pertanyaan

Tidak memakan waktu untuk membuat dan membacanya

Lebih mendetail

Cocok untuk pertanyaan yang membutuhkan jawaban singkat

Lebih mudah untuk di share


Bernilai lebih tinggi di mata pembaca dan juga Google

Bisa dilihat dari tabel diatas bahwa long form memang mempunyai keuntungan yang jelas lebih besar daripada short form. Konten panjang akan mendapat lebih banyak shares dan akan di bookmark banyak orang karena mereka akan membacanya di lain waktu. Otomatis ranknya pun lebih tinggi.

Tetapi bukan berarti semua konten harus berbentuk long form, ada kalanya short form lebih baik untuk digunakan. 

share menurut jumlah kata

Konten Pendek vs Panjang

Sekarang masuk ke pertanyaan utama:

Yang mana yang paling benar?

Anda harus kembali lagi bertanya ke pencari itu sendiri.

Anda tidak harus benar-benar bertanya kepada pencari itu, anda bisa bertanya kepada diri anda sendiri, “Kalau saya mencari dengan keyword ini, jawaban seperti apa yang saya harapkan?” Dari situ jawabannya akan langsung dapat ditemukan.

Misalkan anda ingin membeli sebuah handphone terbaru. Anda telah melakukan riset yang cukup panjang sampai anda telah mendapat dua buah pilihan, handphone A dan handphone B.

Untuk memilih pemenangnya, anda juga mempunyai satu faktor lagi yaitu kemampuan kamera mana yang lebih baik. Saat anda mencari dengan keyword “megapixel smartphone A”, anda kemungkinan tidak berharap untuk membaca sebuah artikel yang berisi sejarah mengenai bagaimana kamera itu bisa dibuat bukan?

Yang diharapkan adalah jawaban langsung to the point tanpa bertele-tele.

Begitu juga dengan mana yang lebih baik diantara konten panjang atau konten pendek. Konten pendek lebih baik digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban panjang. 

Konten panjang digunakan untuk membahas sebuah topik yang membutuhkan penjelasan mendetail karena memang dibutuhkan agar pembaca lebih mengerti tanpa harus mencari lebih lanjut tentang suatu bahasa yang ditemukan di konten tersebut.

Pemikiran manusia tentang konten yang panjang lebih baik kemugnkinan dipengaruhi dari lingkungan sekolah.

Di sekolah diajarkan untuk memperpanjang sebuah karya tulis entah itu makalah, proposal, skripsi, laporan, atau apapun itu. Semakin panjang sebuah karya tulis, biasanya semakin besar juga nilainya.

Karena itulah hal ini tertanam kuat di dalam diri manusia yang membuat mereka berpikir bahwa sebuah konten harus mempunyai jumlah kata yang banyak untuk mendapat nilai tinggi seperti halnya mengerjakan tugas di sekolah.

Tidaklah benar dengan pemikiran bahwa sebuah konten harus panjang. Jika anda berpikir bahwa topik anda tidak membutuhkan jawaban yang panjang dan ingin membuat panjang, anda bisa mencari sebuah topik yang lebih luas dari topik yang ingin anda bahas.

Dengan demikian konten yang akan dibuat juga tidak akan terlalu pendek dan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan lainnya. Google pun akan senang dengan konten anda.

Jadi, jawaban dari pertanyaan manakah yang lebih tinggi antara dua website yang hanya berbeda konten adalah:

Jika konten tersebut menjawab dengan jelas pertanyaan si pencari.

Dengan kata lain, memenuhi User Intent (harapan pencari dengan melakukan pencarian melalui suatu keyword). Google dengan algoritmenya yang selalu mengedepankan pencari lebih senang dengan konten yang menjawab pertanyaan pencari tanpa banyak tambahan-tambahan yang tidak penting.

Bagaimana bisa tahu kalau pencari sudah puas dengan jawaban yang diberikan di artikel tersebut? 

Google selalu mendata apapun yang bisa di data yang dilakukan oleh pengguna Google. Meskipun mesin Google itu pintar, tetapi mereka tidak sedemikian pintar sampai mampu menganalisa kata-kata yang ada di halaman dan menentukan sendiri apakah tulisan itu bisa menjawab pertanyaan.

Cara mereka menentukan hal ini adalah dengan melihat apakah pencari akan mencari hal yang berhubungan dengan keyword sebelumnya. 

Jika mereka puas dengan jawaban akan sebuah artikel, biasanya mereka tidak akan mencari lagi hal-hal yang berhubungan dan menutup tab browser setelah mencari. Itulah indikator yang akan meningkatkan ranking sebuah website di hasil pencarian. 

Akhir Kata


Bagaimana dengan penjelasan di artikel ini? Artikel ini dibuat dengan persepsi bahwa pembuatan konten haruslah selalu panjang dan menjelaskan banyak hal. Padahal kebanyakan artikel mempunyai banyak kalimat yang tidak penting.

Setiap kalimat, setiap kata di sebuah artikel haruslah mempunyai arti yang membuat mereka tidak dapat terpisahkan dari artikel tersebut. Jika sebuah paragraf dapat dijelaskan dengan satu kalimat saja, jangan gunakan satu paragraf untuk menjelaskannya.

Jika mempunyai pendapat lain mengenai ini, silahkan berkomentar dibawah.

Leave a Reply 0 comments

Share This